Jumat, 27 Juni 2014

sudah jelas siapa persiden baru itu



Silahkan download link di bawah


sudah jelas siapa persiden baru itu.mp3

Nara sumber : Prie GS
Penyiar           : Yesi Safitrie

Sumber            : smart fm




TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGN ANDA



seponsor

CENDUT COSMETIK

Tempat Belanja cosmetik & beauty epuipment online terpercaya


Jumat, 20 Juni 2014

TALAK TELEVISI


Talak Televisi
Prie GS

KOMPLEKS kemanusiaan kini adalah keberjangkitan wabah ‘’serbaterlalu’’. Dari terlalu banyak duduk, terlalu banyak makan gorengan, terlalu banyak main game dan internet sampai terlalu banyak menonton televisi.
Menderita salah satu jenis terlalu saja sudah berbahaya, misalnya terlalu banyak makan gorengan, apalagi jika seseorang, atau malah kita, menderita terlalu hampir semuanya. Sudah terlalu banyak duduk tambah terlalu banyak main game ditambah main internet dan nonton TV, masih ditambah sambil terlalu banyak makan gorengan. Bagaimana itu mungkinkah? Sangat mungkin karena berbagai jenis ‘’terlalu’’ itu seperti didesain untuk saling melengkapi dan berada di satu tarikan garis. Ia seperti nasi dan lauk-pauknya.
Ia seperti sayur rames yang boleh memasukkan apa saja menjadi satu adonan. Bayangkanlah rasanya nonton film kesukaan, di gedung bioskop mewah, sambil makan popcorn, bersama orang tercinta, berangkat diantar, pulang dijemput dengan mobil mahal, sudah begitu tiketnya pun dbelikan teman, eh pulang masih dibelikan oleh-oleh pula. Kisah itu seperti rangkaian kebetulan belaka dan sulit terjadi di kenyataan.
Jangan salah: peristiwa yang sama persis memang sulit terjadi, tetapi peristiwa dengan prinsip serupa telah terjadi hampir setiap hari. Hidup Anda dan saya kini, diancam tidak dengan perang dan kelaparan, tetapi diancam oleh berbagai hiburan dan keasyikan yang hebatnya bisa diletakkan di sebuah garis lurus tempat Anda bisa mendapatkan semuanya sekaligus hanya dalam satu tarikan. Baru soal televisi saja ia bisa menarik Anda terlalu dalam jika dituruti.
Untuk menonton satu stasiun yang bersiaran 24 jam saja kita telah kehabisan waktu. Apalagi jika harus menonton ratusan hingga ribuan channel. Kini, bukan cuma induk televisi yang bisa memecah diri, tapi sebuah mata acara juga mulai membelah diri dan menjadi TV sendiri. TV khusus musik saya telah terpecah: ada siaran musik khusus video clip, ada khusus live concert. Dan ini pasti baru awal.
Nanti pasti akan ada siaran khusus konser musik kulit putih saja, atau kulit hitam saja, atau pop saja, jazz saja, rock saja, atau kombinasi itu semua: khusus pop, kulit hitam, live, dan jumlah personelnya harus empat dan semua rambutnya harus keriting, misalnya. Akan lahir aneka kombinasi tak terbatas dan setiap kombinasi baru akan mendapat saluran siarannya sendiri. Sungguh, hanya untuk bisa menonton acara TV saja seluruh umur tak mencukupi dan kita butuh hidup berkali-kali.
Padahal tawaran keasyikan itu tak cuma televisi, bahkan cukup dengan smartphone Anda yang makin hari makin ‘’smart’’ itu bisa menenggelamkan Anda dengan keasyikannya yang terus-menerus diperbarui. Candu keasyikan itulah ancaman yang sedang kita hadapi. Asyik untuk akhirnya lupa, bahwa hidup mestinya bisa lebih punya arti. Jadi, kita sedang digiring untuk menuju zona tanpa arti. (62)

Suaramerdeka.com


DOWNLOAD TALAK TELEVISI.MP3 ( 3mb )_refleksi



DOWNLOAD TALAK TELEVISI.OGG_talk show ( 55 mb )



Suber , smartfm
Penyiar , yesie safitri




Terimakasih atas kujungan anda


Sponsor



CENDUT COSMETIK
    COSMETIK & BEAUTY EQUIPMENT
    http://cendutcosmetik.blogspot.com





Jumat, 13 Juni 2014

TERPILAH, TERBELAH, TERPILIH


PERTARUNGAN dua capres Jokowi-Prabowo sungguh dilatarbelakangi mozaik politik yang penuh gegar. Ada gegar koalisi. Perubahan dari kawan menjadi lawan, dari lawan menjadi kawan berlangsung penuh kejutan dan dalam tempo tinggi. Hasilnya, peta siapa kawan siapa lawan berlangsung serupa gurauan. Kemarin sibuk saling memuji karena berencana berkoalisi, hari ini sudah saling mengkritik karena secepat itu pula pecah kongsi.
Di ranah pemilih juga berlangsung gegar orientasi. Di luar pemilih yang sudah jelas dukungannya kepada masing-masing calon, terdapat massa tengah yang belum mantap pilihan dan terpaksa mengalami kebingungan. Saya tak tahu berapa jumlah massa tengah ini tetapi salah satunya adalah saya. Asal kebingungan ini berasal dari banyak faktor.
Di antaranya ialah faktor titik tengah itu tadi. Kerepotan titik tengah ialah karena siapa saja presidennya dianggap baik-baik saja. Tapi inilah kesulitannya karena pada akhirnya kelompok ini harus tetap memilih. Sungguh mudah bagi pihak yang sudah memiliki pilihan. Saya kadang iri juga pada para suporter kedua calon. Walaupun kedua kubu ini sering saling memaki, tetapi telah jelas peta pilihan mereka. Sedang segmen massa yang saya huni ini, jangankan memilih, bahkan memaki pun saya bingung.
Siapa yang paling layak dimaki menurut saya tidak ada. Jadi dua jenis makian yang berseliweran di jejaring sosial itu tak membuat saya tergerak untuk lebih memaki yang mana. Dikritisi mungkin, tetapi untuk sampai dimaki, saya tak tega. Hasilnya kebingungan saya malah makin sempurna.
Untuk itu, ketimbang bingung sendirian saya merasa butuh teman. Maka pada hari-hari ini, setiap orang yang saya temui saya tanyai: Jokowi atau Prabowo. Kalau jawab mereka tegas, Jokowi atau Prabowo, tak akan lagi saya tanya. Sudah jelas peta mereka. Tetapi kejelasan mereka itu malah menambah kebingungan saya. Karena ada jawaban yang ketegasannya sama tapi pilihannya berbeda dan berasal dari dua pihak yang rasa hormat saya kepada keduanya setara: keduanya sama-sama kiai, sama-sama saya hormati tetapi yang satu memilih Jokowi, yang satu Prabowo.
Perbedaan pilihan tokoh juga terjadi di tingkat suami dan istri, orang tua dan anak. Artinya, semakin banyak bertanya, malah semakin bertemu fakta-fakta yang menambah kebingungan saya belaka. Akhirnya, kompleksitas itu harus saya akhiri dengan cara sederhana yakni, bahwa kontribusi politik terbaik saya tidak terletak pada siapa yang saya pilih, tetapi bahwa walaupun bingung, saya tetap memilih. Tak peduli jago saya nanti kalah atau menang, pihak yang nanti terpilih, pasti karena Tuhan mengizinkan. Dan kalau Tuhan saja sudah mengizinkan, saya jelas akan dengan senang hati menyerah kepada siapa saja yang tengah terpilih sebagai imam. (62)

Sumber , suaramerdeka



DOWNLOAD TERPILAH,TERBELAH,TERPILIH.MP3 ( 1 jam )

Simber , SartFM
Penyiar , Yesie safitri


Sabtu, 07 Juni 2014

LOGIKA JARUM SUNTIK


LOGIKA JARUM SUNTIK
By, Prie GS


PUNCAK rasa sakit saat disuntik adalah ketika jarum belum jatuh. Ketika jarum benar-benar sudah menancap, mendadak rasa sakit itu seperti lenyap. ''Gitu do­ang,'' orang Betawi bilang.

Saya masih ingat betapa takutnya menghadapi jarum suntik saat saya kecil (dan saat saya sudah tua juga). Seluruh kegentaran berakumulasi baru mendengar akan dibawa ke mantri suntik. Dalam perjalanan, yang saat itu dalam keadaan sakit pun harus berjalan kaki ke rumah Pak Mantri di pusat kota kecamatan sana, hidup ini rasanya sudah tak berarti. Seluruh alasan agar acara suntik itu digagalkan sungguh sangat saya nanti.

Begitu sampai di rumah sekaligus tempat praktiknya, duduk di ruang tunggu dan menunggu Pak Mantri itu muncul, sungguh telah menghabiskan seluruh cadangan keberanian. Ketika Pak Mantri itu benar-benar muncul, yang ada tinggallah seonggok tubuh tanpa tulang-belulang. Lemas total. Saat digiring menuju ke dipan suntik, kesadaran saya seperti telah terbang.

Pak Mantri itu sebenarnya adalah pribadi ramah. Dan seingat saya, para mantri saat itu adalah orang-orang ramah. Benar-benar ramah dan baik hati dalam arti sesungguhnya. Mereka adalah pihak yang melayani panggilan dari rumah ke rumah dengan bayaran seikhlasnya. Tak semua pengundang adalah keluarga mampu. Dan rasanya saat itu, semua tetangga kami adalah orang-orang tak mampu seperti kami.

Saya masih ingat benar bagaimana bapak saya menyelipkan lipatan tipis kepada Pak Mantri yang langsung dilesakkan ke saku tanpa dirinci. Memang tak perlu dirinci karena jumlahnya pasti sedikit sekali. Walau jumlah yang sedikit itu telah besar bagi kami, karena uang adalah soal yang jarang singgah di keluarga kami.
Kembali ke soal jarum suntik tadi, setelah saya benar-benar disuntik, bakat sok gaya saya muncul lagi. Ternyata begitu saja rasanya. Saya langsung gagah di hadapan siapa saja. Lebay, begitu mungkin bahasa anak-anak saya kini. Saat ketakutan, saya lebay sekali, saat merasa berani juga lebay sekali. Lebay itu sendiri sudah terlalu, apalagi lebay sekali. Pasti sangat terlalu. Ringkasnya ialah, ada rasa takut, rasa cemas, bahkan derita yang bersumber bukan dari realitas, tetapi sekadar dari asumsi.

Begitu juga dengan memilih presiden. Seolah-olah kalau memilih presiden yang ini pasti benar, dan kalau yang itu pasti salah. Asumsi ini membuat seseorang bisa sangat mencintai pihak yang satu sambil sekaligus sangat membenci yang lain. Cinta dan benci itu sampai membuat kita kurang memercayai sistem yang dengan susah payah kita bangun bersama selama ini. Kegunaan sistem ialah, siapa pun pemimpinnya, hanya boleh berbeda logat, tapi tak boleh berbeda secara substansial. 

Jadi yang dicintai setengah mati dan dibenci setangah mati itu ternyata hanya soal logat, bukan soal substansial. Itulah bahaya logika jarum suntik. Karena takutnya, kita gagal mengedepankan fakta, bahwa betapapun tajam sebuah jarum suntik, ia toh akan jatuh di pantat, bukan di mata

Sumber: suaramerdeka.com


DOWNLOAD LOGIKA JARUM SUNTIK .MP3 ( 1 JAM )

Sumber : radio smart fm



Terimakasih atas kunjungan anda

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates