Sabtu, 07 Juni 2014

LOGIKA JARUM SUNTIK


LOGIKA JARUM SUNTIK
By, Prie GS


PUNCAK rasa sakit saat disuntik adalah ketika jarum belum jatuh. Ketika jarum benar-benar sudah menancap, mendadak rasa sakit itu seperti lenyap. ''Gitu do­ang,'' orang Betawi bilang.

Saya masih ingat betapa takutnya menghadapi jarum suntik saat saya kecil (dan saat saya sudah tua juga). Seluruh kegentaran berakumulasi baru mendengar akan dibawa ke mantri suntik. Dalam perjalanan, yang saat itu dalam keadaan sakit pun harus berjalan kaki ke rumah Pak Mantri di pusat kota kecamatan sana, hidup ini rasanya sudah tak berarti. Seluruh alasan agar acara suntik itu digagalkan sungguh sangat saya nanti.

Begitu sampai di rumah sekaligus tempat praktiknya, duduk di ruang tunggu dan menunggu Pak Mantri itu muncul, sungguh telah menghabiskan seluruh cadangan keberanian. Ketika Pak Mantri itu benar-benar muncul, yang ada tinggallah seonggok tubuh tanpa tulang-belulang. Lemas total. Saat digiring menuju ke dipan suntik, kesadaran saya seperti telah terbang.

Pak Mantri itu sebenarnya adalah pribadi ramah. Dan seingat saya, para mantri saat itu adalah orang-orang ramah. Benar-benar ramah dan baik hati dalam arti sesungguhnya. Mereka adalah pihak yang melayani panggilan dari rumah ke rumah dengan bayaran seikhlasnya. Tak semua pengundang adalah keluarga mampu. Dan rasanya saat itu, semua tetangga kami adalah orang-orang tak mampu seperti kami.

Saya masih ingat benar bagaimana bapak saya menyelipkan lipatan tipis kepada Pak Mantri yang langsung dilesakkan ke saku tanpa dirinci. Memang tak perlu dirinci karena jumlahnya pasti sedikit sekali. Walau jumlah yang sedikit itu telah besar bagi kami, karena uang adalah soal yang jarang singgah di keluarga kami.
Kembali ke soal jarum suntik tadi, setelah saya benar-benar disuntik, bakat sok gaya saya muncul lagi. Ternyata begitu saja rasanya. Saya langsung gagah di hadapan siapa saja. Lebay, begitu mungkin bahasa anak-anak saya kini. Saat ketakutan, saya lebay sekali, saat merasa berani juga lebay sekali. Lebay itu sendiri sudah terlalu, apalagi lebay sekali. Pasti sangat terlalu. Ringkasnya ialah, ada rasa takut, rasa cemas, bahkan derita yang bersumber bukan dari realitas, tetapi sekadar dari asumsi.

Begitu juga dengan memilih presiden. Seolah-olah kalau memilih presiden yang ini pasti benar, dan kalau yang itu pasti salah. Asumsi ini membuat seseorang bisa sangat mencintai pihak yang satu sambil sekaligus sangat membenci yang lain. Cinta dan benci itu sampai membuat kita kurang memercayai sistem yang dengan susah payah kita bangun bersama selama ini. Kegunaan sistem ialah, siapa pun pemimpinnya, hanya boleh berbeda logat, tapi tak boleh berbeda secara substansial. 

Jadi yang dicintai setengah mati dan dibenci setangah mati itu ternyata hanya soal logat, bukan soal substansial. Itulah bahaya logika jarum suntik. Karena takutnya, kita gagal mengedepankan fakta, bahwa betapapun tajam sebuah jarum suntik, ia toh akan jatuh di pantat, bukan di mata

Sumber: suaramerdeka.com


DOWNLOAD LOGIKA JARUM SUNTIK .MP3 ( 1 JAM )

Sumber : radio smart fm



Terimakasih atas kunjungan anda

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates