Sabtu, 13 Juli 2013

LEBAH EINSTEIN (prie gs refleksi )

Jika lebah madu punah, maka umur bumi tinggal 4 tahun lagi”, begitu kata Einstein. Pelan-pelan kepunahan kunang-kunang sudah terjadi, dan sebentar lagi, capung. Satu demi satu langkah kepunahan spesies tertentu menyusul, dan akan menuju ke lebah madu. Eisntein tentu punya penjelasan yang rumit tentang hal itu. Tapi ringkasan penjelasannya adalah kepunahah lebah itu adalah tonggak ketika hukum sebab akibat tidak berlaku lagi. Tidak ada sebab, maka tidak ada akibat. Maka mari menengok fenomena sebab akibat itu terjadi. Ternyata, banyak faktor sebab yang kita hancurkan. Misalnya, untuk membuat masyarakat hidup makmur tentu membutuhkan penyebab kemakmuran. Tapi faktor ituah yang kita kurangi, misalnya dengan prilaku korupsi. Menginginkan kemakmuran bersama sambil korupsi jelas tidak mungkin, karena azas korupsi adalah ingin makmur sendiri. Maka logis jika pada hari ini banyak ditemui kemiskinan umum dan kemakmuran pribadi. Banyak orang makmur, tapi bukan masyarakat. Hanya cukup dengan kehilangan satu sebab saja, banyak mata rantai akibat yang mati. Apalagi kalau sebab itu wilayah inti. Hanya dengan matinya kepemimpinan misalnya, walau pemimpin kelihatannya banyak, tapi kegiatan memimpin jejaknya sulit ditemui. Ada banyak perintah kebaikan tapi hanya berhenti pada diperintahkan, bukan diperagakan, karena agar perintah dijalankan harus dipenuhi dulu penyebabnya. Ada banyak keharusan disana. Tapi memenuhi satu saja berat sekali. Misalnya ketegasan. Banyak orang mengira dirinya tegas padahal hanya galak biasa. Padahal banyak orang galak tapi tidak ditakuti. Karena galak yang ditakuti juga penyebab, salah satunya sepadan. Galak tapi tak sepadan akan menyulut ironi. Padahal untuk dibilang sepadan itu saja juga banyak syaratnya. Tapi salah satunya saja pasti sudah berat, misalnya konsekuen. Hanya diminta konsekuen pasti berat karena memang jangan ditanya isi kata itu. Ia memuat aneka tirakat hidup yang berat, seperti berani tidak populer, berani pasang badan, berani tidak korup, berani mengalah, berani dipecat dan lain-lain. Hanya untuk konsekuen kita harus memelihara faktor penyebab yang banyak. Faktor penyebab itu sering berupa ujian berat, dan resikonya, kita malah sering memutilasinya. untuk download rekaman mp3 silahkan klik link di bawah

Senin, 08 Juli 2013

PISIKOLOGI KHAYALAN

Ada psikologi harapan, ada psikologi khayalan. Yang pertama disiapkan agar manusia kuat menyambut hari depan. Yang kedua adalah jalan menuju harapan menyamnbut hari. Tanpa harapan, sungguh membahayakan, karena hidup hanya berisi keputusasaan. Tapi menyambut hari depan dengan khayalan adalah selemah-lemahnya jalan.   

Sahabat saya, seorang kyai santun, belakangan ini sulit dihubungi karena ponselnya mati. Ketika  bertemu dengannya, saya tanyakan hal ini.  Saya sudah menduga dia akan memberikan jawaban standart, yaitu sibuk mengurus umat. Tapi saya agak kaget ketika jawabannya diluar dugaan saya, ia terpaksa ganti nomor karena banyak ditelefon oleh teman-teman dekatnya untuk meminta nomor judi buntut yang akan keluar. “Saya takut kepada Tuhan”, kata kyai itu.   

Saya kaget untuk 3 hal. Pertama, nomor buntut ternyata masih ada. Upaya pemberantasannya sia-sia.
Kedua, fakta begitu rendahnya cara kita menyusun harapan, karena isinya lebih  banyak disusun dengan khayalan.
Kaya dari buntut hampir tidak pernah ada, tapi kehadiran nomor buntut selalu dipercaya.
Dua  jenis kaget itu mestinya tak bikin kaget, karena perjudian  memang naluri yang amat tua. Ia tak bisa diberangus dengan tindakan  kebetulan saja, kebetulan pejabatnya tidak suka perjudian.
Kebetulan itu pendek umurnya.   
Tapi kaget ketiga yang lebih serius. Teman-teman dekat yang menelefon  itulah. Kalau  ia orang awam tak masalah, apalagi yang ditanyakan nomor buntut.  Begitu luar biasa pengaruh nomor buntut, sampai-sampai sekumpulan teman dekat tega membengkokkan jalan seorang kyai. Sungguh tidak terkira keberuntungan sebuah kawasan yang tinggal didalamnya seorang saja orang yang saleh, yang selalu bangun malam untuk berdoa, menangis dalam kesendirian, memohon ampunan, bukan hanya untuk mereka sendiri tapi  untuk umat.     

Selama masih ada orang-orang seperti inilah azab masih ditunda, karena tangis orang-orang saleh, Tuhan tidak tega menjatuhkan bala bencana. Lalu apa jadinya jika orang yang sudah bersusahpayah tegak dijalan Tuhan itu kita bengkokkan hanya karena kegemaran terhadap judi buntut. Itu setara dengan negara yang jatuh miskin karena kita korupsi sendiri. (am)


 untuk rekaman silahkan download

 DOWNLOAD SIKOLOGI KHAYALAN

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates