Senin, 05 Mei 2014
KEMATIAN BERSAHUTAN ( TALK SHOW PRIE GS )
KEMATIAN BERSAHUTAN
Dari rumah saya biasa terdengar aneka load speaker , setidaknya dari 6 mesjid. Maka saat azan tiba, aneka load speaker serentak bersahutan. Saya sampai hapal dengan gaya masing-masing muazin. Muali dari yang merdu sampai yang fals, hingga yang bernada memelas dengan volume sangat keras. Saya belum mengerti bagaimana mesjid-mesjid itu memiliki gaya muazin yang yang variatif. Dugaan saya karena niat mulia, yakni peribadatan. Kalau hanya yang bersuara merdu saja yang bisa jadi muazin, bagaimana dengan bersuara fals? Karena fals dan merdu sama haknya di depan peribadatan. Hasilnya sungguh menarik. Itulah mengapa banyak yang bersuara fals tetap percaya diri untuk azan dengan lantang.
Selain fungsi ritual, mesjid di Indonesia, terutama yang setipe dengan di kampung saya, juga melayani fungsi sosial. Di luar azan, mesjid juga melayani berbagai kebutuhan, seperti memasang lagu-lagu kosidah untuk menyemangati kerja bakti warga. Kegiatan lain yang terbanyak adalah memberi pengumuman, mulai dari pengajian, senam aerobik, sampai berita kematian. Kadang pengumuman itu bisa bersahut-sahutan. Di sini baru selesai, di sana terdengar berita kematian. Mesjid makin melengkapi perannya sebagai sentra ibadaha, yakni pengingat tentang kematian.
Ini sungguh alarm penting bagi hidup yang akhirnya harus mati. Karena walaupun alarm yang mengingatkan tentang mati bertebaran, tapi mengingat mati tetaplah sebuah kesulitan. Kecenderungan manusia adalah lupa mati, kalau bisa malah menolak mati. Itulah mengapa hidup yang singkat ini masih dipakai untuk korupsi dan membakari hutan. Perut yang telah sesak cuma dengan sepiring nasi, banyak diisi dengan cara-cara yang dramataik. Menebas gunung, mengepras bukti, menguras laut dan tambang galian.
Itu semua menandakan kesalahpahaman terbesar dalam sejarah pengetahuan manusia. Pemahaman manusia modern pada pengetahuan terus mengalami kemajuan, tapi pemahaman pada kematian mengalami kemunduran. Indikasi sangat mudah, yakni ketika daftar kerusakan itu semakin meninggi. Itulah indikator paling ril. Gaya hidup merusak hanya dilakukan oleh pihak-pihak yang amat menggemari hidup yang tidak pasti ini, tapi sambil melupakan soal-soal yang pasti, yakni kematian. (am)
Berikut adalah beberapa pertanyaan yg akan di jawab oleh mas prie GS
1. Iswan , jakarta
Pertanyaan :
Apakah setiap masalah harus ada jawabannya....
2. hanifah ,medan
Pertanyaan :
Apa bedanya di tanya dg mempertanyakan?
3. Iswan, jakarta
Pertanyaan:
Kalau lagi galao apa yg mas Prie lakukan?
4.Iswan
Pertanyaan:
Dalam tahap awal bagaimana kita melihat apakah Dia politikus atau negarawan ?
5...... Selanjutnya silahkan download pada link berikut...
Download kematian bersahutan.mp3
TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar